RAHASIA DAGANG MAS GARENG

Di ujung jalan masuk ke rumahku, ada seorang penjual NASI GORENG yang lumayan enak mak nyoossss. Waktu pertama kali beli, dia memperkenalkan namanya yaitu SADDAM. Walah, kok presiden Irak berubah profesi jadi bakul nasgor ya? hehehe

Tapi, nama aslinya menjadi sedikit terlupakan karena orang-orang komplek memanggilnya dengan nama MAS GARENG yang artinya si Mas penjual seGA goRENG. SEGA adalah nama lokal dari daerah asal om Saddam ini yaitu TEGAL. Konon, di Tegal ga ada NASI tapi yang ada SEGA. hehehe

Mas Gareng sudah berjualan nasgor kira-kira 5 tahunan ini sehingga banyak penghuni komplek yang setia menjadi pelanggannya. Doeloe sih si Mas ini mendorong gerobaknya keluar masuk jalan di komplek tapi sejak 2 tahunan ini si Mas cukup ngetem di ujung jalan masuk ke rumah mungilku dan pelanggan setianya yang  akan datang mencari untuk menikmati hasil masakannya.

Kebetulan di dekat lapak Mas Gareng ada Warung Kopi tempat biasa bapak-bapak komplek nongkrong kala malam minggu / liburan atau setelah capek keliling ronda siskampling. Aku sering juga duduk di warkop itu sehingga bisa ngobrol ngalor ngidul dengan Mas Gareng tentang usahanya.

Hingga pada suatu malam aku terlibat obrolan anget dengan Mas Gareng.

‘Ramai, mas?’, tanyaku.
‘Yah, lumayan pak. Namanya juga wong dagang ya kadang-kadang ramai dan kadang-kadang juga sepi. Rejekine wong dagang kui naik turun, ora bisa diprediksi.’
‘Wah … wah … nek ramai mesti untung gede ya? Berapa laba nya?’
‘Inyong ora ngarti, pak. Pokoke lumayan bisa buat belanja keluarga dan kalau ada sisa ya ditabung kanggo sekolahe bocah.’
‘Kok bisa ora ngarti? Sedina ne ngelayani pirang porsi?’
‘Kalau lagi sepi ya rata-rata 50 piring/hari, tapi kalau ramai ya sampai 80-100 piring/hari.’

Sekedar informasi, harga per porsi masakan Mas Gareng saat ini Rp. 6.000 untuk menu biasa dan Rp. 8.000 untuk menu istimewa. Menu biasa cuma diberi telor sedangkan menu istimewa diberi tambahan suwir ayam dan irisan ampela + hati ayam.
Kalau dihitung dengan harga Rp. 6.000/porsi dan bisa terjual 50 porsi/hari maka pendapatan kotor Mas Gareng adalah Rp. 6.000 x 50 = Rp. 300.000/hari.
Dengan asumsi marginnya min 30% maka hasilnya 30% x Rp. 300.000 = Rp. 90.000/hari
Dengan asumsi 25 hari kerja/bulan maka pendapatan Mas Gareng adalah Rp. 90.000/hari x 25 hari = Rp. 2.250.000/bulan.
Ini kalau lagi sepi yaitu waktu berjualan sampai jam 24.000 wib. Bagaimana kalau lagi ramai?

Mas Gareng mulai buka lapak sekitar jam 19.00 wib dan tutup jam 24.00 wib, tapi aku sering melihat lapak Mas Gareng sudah tutup rata-rata jam 22.00 wib.
Waduh, kalau begitu si Mas ini berjualan cuma 3 jam untuk melayani 100 porsi dengan pendapatan Rp. 6.000/porsi x 100 = Rp. 600.000/ hari
Marginnya = 30% x Rp. 600.000 = Rp. 180.000/hari
Artinya waktu kerja Mas Gareng adalah Rp. 60.000/jam karena dia hanya bekerja selama 3 jam.

itu sebuah angka yang besar bagi Mas Gareng dengan ijasah formalnya cuma lulusan SMP. Jauh lebih besar daripada dia kerja sebagai buruh di pabrik atau menjadi pembantu / tukang kebun di keluarga kaya.

‘Mas Gareng ini sugih juga, ya?’, kataku.
‘Waduh, ngenyeeeekkkk … wong cuma dodolan sega goreng ya ora bisa sugih, pak. Beda dengan njenengan atau pegawai kantoran yang bisa kerja enak. Inyong cuma begini aja.’
‘Bener loh, Mas Gareng mesti akeh duite. Insya Allah, itunganku ra meleset. Sampeyan mesti ning ndesa duwe Rumah dan Tanah ya?’
‘Kok bapak bisa ngarti seh? Alhamdulillah, Inyong wis bisa mbangun rumah dan beli kebun cilik. Yah, itung-itung kanggo persiapan masa tua. Bakul Sega Goreng kan ga mungkin dapat pensiunan.’
‘Hebat … hebat …’ kataku dengan jujur.

‘Eh, mas … kalau ga laku dan masih ada sisa, nasi nya diapakan?’, tanyaku.
‘Biasane nasi sisa tak berikan tetangga sebelah kontrakan yang memelihara ayam.’
‘Gratis?’
‘Iya … gratis. kenapa sih, pak?’
‘Ga papa, cuma kalau dijual murah-murahan kan bisa nambah hasil, mas.’
‘Oalaaaahhhh, pak. Sega sithik kok dijual ya saru. Apalagi tetangga itu juga baik banget. Inyong bisa titip gerobak tiap hari. Itung-itung kerjasama ya ga boleh mbayar.’
‘Ooo … betul nek ngono.’

‘Mas Gareng ora pengin buka cabang?’
‘Pengin sih pengin, pak. Tapi belum nemu bocah sing cocok kanggo jaga.’
‘Aku sering bingung … nek bakul nasgor gini, piye cara kontrol dagangannya?’
‘Hahaha … gampang kui, pak.’
‘Piye?’
‘Biasane si boss pemilik gerobak nasgor akan menghitung jumlah telor dan jumlah mie yang akan dijual. Kalau nasi ya pakai sistem kira-kira saja.’
‘Lah … emang bocah yg jualan ga akan nakal? Telor dan mie kan gampang dibeli di warung terdekat sekitar lapak.’
‘Nek kui ya resiko. Tapi kalau kita sudah pengalaman dagang ya Insya Allah kita bisa ngira-ngira pasar pelanggan sekitarnya. Ga bisa tepat 100% seh, tapi cukup bahwa kita sebagai boss tidak akan rugi dan masih ada untungnya.’
‘Ooo … gitu ya?’
‘Kalau cuma beli telor dan mie aja seh masih mendingan, pak. Yang lebih parah adalah bocah yang jualan akan menipu boss-nya dan konsumen.’
‘Caranya?’
‘Bapak kan sering lihat kalau saya biasa masak rombongan beberapa porsi jadi 1 kali masakan. Saya selalu berusaha 1 porsi mendapat 1 butir telor biar pelanggan puas. Tetapi pedagang yang nakal akan mengambil cara mengurangi jumlah telornya kalau dia masaknya rombongan. Misalnya masak 5 porsi seharusnya mendapat 5 butir telor, tapi dia mengurangi menjadi 4 telor bahkan yang lebih nekad lagi cuma 3 telor. Akibatnya pelanggan kecewa. Ini yang merugikan si boss pemilik gerobak sekaligus pelanggannya.’
‘Wah, ini ilmu pengetahuan baru, mas.’

‘Ngomong-omong, apa kegiatan Mas gareng kalau siang hari?’
‘Jadwalku, mulai dagang dari jam 7 malam sampai maksimal jam 12 malam. Pulang ke kontrakan tidur. Setelah Sholat Shubuh aku karo bojo belanja ke pasar. Jam 7 pagi aku nganter langganan antar jemput cah sekolah. Awan ya jemput langganan. Sore sibuk siap-siap, masak nasi dan gawe bumbu kanggo jualan.’
‘Isteri ngapain aja?’
‘Isteriku dagang kelontong kecil-kecilan di kontrakan, pak. Kadang-kadang sih terima nyuci nggosok pakaian dari keluarga komplek. Ya, lumayan kanggo tambah belanja.’

…..

Waduh … hidup Mas Gareng ternyata penuh warna. Dia dan isterinya bekerja mati-matian selagi muda dan masih kuat bekerja. Anak-anaknya titip di kampung ikut simbah.

Aku jadi kagum, ternyata banyak pekerja ulet dan mandiri di sekitar kita.

Salam Sega Goreng,

RHRM
si pencari damai

Pos ini dipublikasikan di Aku dan Lingkungan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s