DAUN DUIT

Saat berangkat kerja kemarin, saya menemukan pemandangan seorang bapak naik sepeda yang membawa tumpukan daun pisang.  Saya merasa unik karena ini terjadi di daerah Ciledug, Tangerang.

Saat pertama saya coba hentikan, si bapak cuma geleng-geleng dan menggoyangkan tangan sambil terus jalan tidak mau berhenti. Akhirnya, karena ada kemacetan, si bapak mau melayani saya ngobrol sejenak.
‘Istirahat dulu, pak. Kita ngobrol sebentar.’
‘Abang mau beli daun pisang?’, tanya si bapak.

‘Hahaha. Enggak, pak. Cuma tertarik saja liat bapak bawa-bawa daun pisang gini.’
Saya mengeluarkan rokok dan menawari si bapak untuk membuka percakapan. Biasanya jurus ini ampuh karena di lapangan, rokok adalah teman. Mungkin seperti ‘Pipa Perdamaian’ yang sering ada dalam cerita tentang suku Indian dan Cowboy di jaman dulu.

Dan tebakan saya benar. Si bapak menyambut baik dan percaya bahwa saya adalah ‘orang baik-baik’ ketika dia mulai menghisap rokok.
‘Maaf, namanya siapa pak?’
‘Anam.’
‘Bapak dari mana?’
‘Dari tangerang, bang.’

(Busyet, dah. Ciledug juga masih wilayah Tangerang, boss! Sabodo teuing, ahh. Ikuti aja apa maunya …)

‘Kenapa bapak tadi tidak berhenti saat saya stop?’
‘Oh, maaf bang. Saya kira abang mau beli daun pisang ini. Saya ga berhenti karena ini sudah pesanan orang.’

(Alhamdulillah, saya kira si bapak takut karena mengira kalau saya ini orang jahat yang mau merampok. Ternyata ini alasannya …)

‘Ohh … saya kira bapak takut saya rampok.’
‘Hehehe … abang bisa aja.’

‘Ini daun pisang buat apaan, pak?’
‘Saya kirim ke tukang bikin tempe, bang. Sebagian saya jual ke pasar. Sudah ada yang pesan.’

‘Emang laku, pak?’
‘Laku, bang. Sebetulnya banyak pesan tapi saya Cuma bisa kirim segini. Ga tentu juga seh dapatnya. Hari ini cuma bisa segini.’

‘Harga berapa, pak?’
‘Ini saya jual Rp. 6.000 per 20 lembar.’
‘Lah, kalau segini ada berapa lembar?’
‘Lupa, bang. Tapi hitungan saya, uangnya ntar sekitar Rp. 80.000 an.’
‘Bapak tiap hari nyari daun pisang gini?’
‘Iya, bang. Ntar pulang dari jualan, saya mulai nyari buat dijual besok paginya.’
‘Nyari apa beli, pak?’
‘Nyari aja. Kalau harus beli ya kita ga ada untungnya. Saya minta ama orang-orang yang punya pohon pisang. Kadang-kadang saya cuma disuruh bersihin tu kebon dan taneman sebagai bayaran ngambil daun pisangnya.’

‘Nyari kemana?’
‘Ya keliling-keliling kampung, bang. Saya sudah lama jual ginian jadi dah punya langganan buat diambil daun pisangnya.’
(Ooo … tuh di kampung saya banyak ga keurus sampai kering. Jadi ingat tanaman pisang di kebon bapak di kampung sana.)

‘Tiap hari dapat uang berapa, pak?’
‘Minimal saya bawa pulang Rp. 50.000 tiap hari. Lumayan buat makan keluarga, bang.’

‘Tiap hari?’
‘Iya, kalo badan agak meriang ya saya libur.’
‘Wah, lumayan juga hasilnya.’
‘Hehehe.’

—–

Ternyata hidup itu tidak susah bagi orang-orang yang kreatif dan bisa melihat peluang. Contohnya, pak Anam ini.

Berbekal tekad untuk berjuang dan bertahan hidup, dia mencari daun pisang yang mungkin sering kita anggap tidak berguna dan dibiarkan mengering di pohon.

Saya lupa menanyakan apa latar belakang pendidikannya, tapi kalau minimal dia mendapatkan Rp. 50.000/hari maka pendapatan dia menjadi minimal Rp. 1.500.000/bulan. Ini juga termasuk UMR walaupun tidak menjadi karyawan pabrik.

Salam Wirausaha!

RHRM
Si pencari damai

https://duniasithole.wordpress.com

TARGET! Kejaaaaaarrrrrr … !!!

Nampang bentar saat macet …

Senyum pantang menyerah!

Pos ini dipublikasikan di Aku dan Lingkungan dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke DAUN DUIT

  1. mfauzi berkata:

    Emmm.. Good Posting… I like it.

    Salam Kenal,
    http://mrzie3r.wordpress.com/

  2. firdausfarisqi berkata:

    salut buat semangat si Bapak, penghasilan 1,5 juta per bulan sepertinya udah di atas UMR Jakarta ya bang ? asal ada upaya di situ ada jalan dan rejeki ^^ semangat🙂

  3. Abdul Adhim berkata:

    Daunnya jadi duit ya … ? dirumah saya banyak tuh daun pisang !

  4. oomgoen berkata:

    tetap semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s