Pilkada, Antara Harta dan Tahta

seorang teman mengatakan kalau si calon ANU yang terpilih dalam pilkada di daerah ANU telah menghabiskan dana 11 milyar mulai dari tahapan penjaringan bakal calon sampai malam midodareni yang diikuti dengan ’serangan fajar’.

teman ini juga mengatakan kalau si calon tersebut kemungkinan masih harus merogoh kantong lebih dalam atau mencari utang baru kalau duitnya sudah habis.

kenapa?
masih kata teman ini, sekarang team sukses si calon ANU sedang giat-giat dan bersemangat untuk menagih janji atas kerja-kerasnya membantu pemenangan dalam pilkada tersebut. kelompok-kelompok ormas ataupun pribadi yang terlibat dalam team sukses merasa berjasa dan mereka ingin sedikit uang lelah dan/atau uang penghapus lelah dengan mengadakan pentas seni hiburan dan pesta untuk merayakan kemenangan ’sang pemimpin baru’.

jadi, kemungkinan angka 11 milyar tersebut bukan pengeluaran final dalam proses pilkada di daerah ANU. masih banyak biaya-biaya ikutan yang harus dibayar baik secara kontan ataupun kredit.

saat mendengar kabar itu, saya yang seumur-umur belum pernah melihat uang milyaran jadi bingung dan geleng-geleng kepala.

kenapa mereka mau jadi ’sang pemimpin baru’? apa yang mereka cari?

saya jadi ingat kata-kata seorang sesepuh yaitu harta dan tahta adalah dua sisi mata uang yang saling berdekatan dan berhubungan akrab sekali.
kata sesepuh itu, sesorang akan berusaha mendapatkan harta dan tahta dalam hidup yang singkat ini. kadang-kadang, bagi sebagian orang, halal atau haram itu nomor kesekian yang penting harta dan tahta bisa dibawa pulang dan ujung-ujungnya berakhir dengan mendapatkan wanita.

seseorang yang punya harta segudang akan mencoba keberuntungannya untuk mendapatkan tahta apalagi sekarang jamannya pemilihan langsung yang berdasarkan suara terbanyak. masalah kualitas menjadi nomor buncit dibandingkan dengan popularitas di mata rakyat pemilih.

seseorang yang sudah merasa kaya raya ingin menorehkan sejarah hidupnya dengan menjadi seorang pemimpin di daerah asalnya. jadi, mereka berharap namanya akan dikenang sebagai orang yang pernah memimpin di daerahnya dan kenangan ini akan bertahan sampai akhir masa selama daerah tersebut masih tetap berdiri.

bagi sekelompok orang, harta gampang dicari apabila tahta sudah diduduki. soal uang yang sudah keluar sebagai ‘modal perjuangan’ masih bisa dicari kalau tahta bisa dikuasai. ini hanya masalah waktu saja untuk mengembalikan uang modal, ibaratnya sekedar memindahkan uang dari saku kiri ke saku kanan dan sisanya bisa ditaruh di saku teman atau keluarga.

balik modal plus keuntungan.

saya adalah pelaku pasar tradisional bermodal kecil yang selalu berhitung pada rencana anggaran pengeluaran, nilai investasi, bunga bank, proyeksi keuntungan dll yang dilakukan dalam cara terbatas dan sederhana.

saya sebagai seorang pedagang kelas teri pun selalu berpandangan:
‘apa yang bisa saya dapatkan kalau saya harus membayar sekian rupiah? saya tidak mau kalau hanya balik modal. saya pengin balik modal ditambah keuntungan atas modal yang sudah dikeluarkan.’

misalkan saya mengeluarkan uang 11 milyar plus biaya lain-lain yang (anggaplah) totalnya 15 milyar, maka uang sejumlah 15 milyar harus kembali utuh dengan selamat ditambah keuntungan. berapa jumlah keuntungannya? saya berharap sebanyak mungkin, minimal harus diatas bunga deposito bank.

saya berharap uang 15 milyar bisa menjadi 30 milyar dalam waktu 5 tahun, ini artinya saya harus mendapatkan uang sejumlah 6 milyar/tahun. itu nilai bersih setelah dipotong biaya operasional, pajak, dan kewajiban rutin lain-lain.

bagaimana caranya?
entahlah … saya belum menemukan jawaban pasti soalnya kalau sekedar mengikuti aturan standar masalah gaji, bonus dan tunjangan yang didapatkan dengan posisi sebagai pemimpin di daera ANU kok kayaknya mustahil untuk mendpatkan uang sebesar itu.

pasti ada cara-cara ajaib dan gaib untuk mendapatkan uang tersebut.

lalu, apakah saya harus ikut mempertaruhkan uang kalau saya (kebetulan) diberikan rejeki berlimpah?

entahlah …
tapi rasanya saya lebih memilih cara lain untuk memutar uang dan kekayaan dibandingkan mengikuti cara menjadi pemimpin daerah. terus terang, saya tidak mau direpotkan dengan urusan birokrasi yang tidak saya kuasai dengan baik dan benar. bagi saya, masih banyak pilihan selain bertarung dalam pilkada.

saya akan berhitung juga soal resiko seandainya terjadi hal-hal diluar dugaan akibat kesalahan proses administrasi dalam mencari uang yang mengakibatkan saya harus dicopot ditengah masa jabatan.

alih-alih menginginkan balik modal maupun keuntungan, saya harus bersiap manata hati jiwa dan raga untuk mengikuti proses persidangan karena menjadi tersangka korupsi.

saya (mungkin) akan lebih memilih bisnis di properti dengan uang sejumlah 15 miliar tersebut. saya membayangkan mempunyai minimal 100 kamar kost yang disewakan dengan minimal tarif rp 500.000/bulan.

saya membayangkan arus kas yang masuk cukup besar dan dalam waktu 5 tahun terjadi kenaikan nilai aset untuk properti yang saya miliki.

saya ini manusia bodoh

ya … saya ini termasuk manusia bodoh karena tidak bisa berpikir dengan berinvestasi dalam bidang politik. ini komentar saya saat teman itu selesai bercerita soal sang pemimpin baru di daerah ANU.

bagaimana dengan anda?

ini adalah tulisan dari manusia bodoh, jadi harap maklum kalau tidak sesuai dengan aturan rahasia di daerah ANU di negeri ANU

https://duniasithole.wordpress.com/

Pos ini dipublikasikan di Aku dan Lingkungan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s