Karyawan dan Wirausaha

Mana yang lebih enak antara menjadi seorang karyawan atau menjadi seorang wirausaha?
Bagi saya, kedua pilihan itu ada sisi positip dan negatip. Ada plus dan minusnya.

Menjadi karyawan itu kontrak pasti. Artinya anda akan dibayar rutin per bulan sekian rupiah dan mungkin ada bonus tambahan dalam periode tertentu. Menjadi karyawan itu harus siap diperintah oleh boss/ pimpinan dan harus mematuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan dimana anda bekerja.

Sedangkan, menjadi wirausaha itu anda memiliki kebebasan waktu. Anda sendiri yang menentukan jam kerja dan aturan nya. Dari segi pendapatan, seorang wirausaha bisa naik turun sesuai dengan omset usaha yang anda kerjakan. Bisa enak dan bisa juga tidak enak.

Sekedar berbagi …

Saya mendapatkan kontrak dari perusahaan X untuk mensupply bahan baku buat perusahaannya. Kontraknya tidak terbatas, artinya berapapun bahan baku yang bisa saya setorkan pasti akan dibeli dan dibayar oleh perusahaan itu.
Jika dilihat dari segi pemasaran, saya tidak mendapatkan kesulitan lagi. Kendala saya saat ini adalah mengumpulkan bahan baku dan sedikit melakukan pengolahan sebelum disetor ke perusahaan pemesan.

Anda mengira saya senang?
Nanti dulu, senang sih pasti senang. Saya tidak mau menghilangkan rejeki yang diberikan oleh Tuhan YME. Sedikit atau banyak, setiap rejeki yang kita peroleh ya wajib untuk disyukuri.

Lalu, kenapa saya harus merasa tidak (kurang) senang?
Karena, harganya yang ekonomis sekali.

Kenapa?
Ok, saya berikan uraian sebagai berikut:

Perusahaan X menerima bahan baku dengan harga Rp. 475/kg. Berapapun kapasitas produksi saya akan dibayar tanpa kecuali.

Sebagai gambaran, usaha saya menerapkan hitungan sebagai berikut:

– Ongkos transportasi dari Tangerang ke Semarang = Rp. 185/kg
– Gaji Karyawan = Rp. 50/kg

Dengan melihat acuan itu maka harga jual produksi maksimal yang harus dicapai adalah …
Harga I = Rp. 475 – (Rp. 185 + Rp. 50) = Rp. 240/kg

– Barang baku harus dikumpulkan dari beberapa sub supplyer dengan harga Rp. 150/kg
– Ongkos angkut dari sub supplyer ke gudang saya = Rp. 25/kg

Maka Harga II = Rp. 240 – (Rp. 150 + Rp. 25) = Rp. 65/kg

Penghasilan kotor saya adalah Rp. 65/kg
Angka itu masih dikurangi bea gudang, operasional harian, uang keamanan/ preman, dll sehingga pendapatan bersih saya sekitar Rp. 20/kg

Mana yang lebih enak antara Karyawan dan Wirausaha?

Karyawan saya mendapatkan gaji sejumlah Rp. 50/kg dikalikan omset perusahaan dan dibagi jumlah karyawan menurut posisinya masing-masing.
Gaji itu tetap dan saya akan menghitungkan bonusnya setelah sekian bulan menurut situasi dan kondisi plus THR (Tunjangan Hari Raya), Uang Kesehatan dll.

Saya mendapatkan pendapatan bersih Rp. 20/kg dikalikan omset perusahaan dan dikurangi pajak pendapatan.

Apakah saya akan mengambil pekerjaan ini?
Insya Allah akan saya kerjakan karena banyak atau sedikit … rejeki Tuhan YME harus tetap disyukuri. Alhamdulillah saya masih diberikan rejeki dan saya masih bisa berbagi untuk karyawan yang bekerja di usaha saya.

Jika anda berpikir jadi pengusaha itu banyak duit ya sebaiknya anda berpikir ulang karena duit yang banyak itu dikumpulkan dari uang recehan yang mungkin jauh dari bayangan anda. Jaman sekarang, Rp. 20 itu tidak ada nilainya kalau harus berdiri sendiri tapi dengan kuantitas banyak, uang itu bisa menjadi angka yang besar.

Rp. 20/kg x 100 ton (100.000 kg) akan menjadi Rp. 2.000.000
Rp. 20/kg x 200 ton (200.000 kg) akan menjadi Rp. 4.000.000
Rp. 20/kg x 300 ton (300.000 kg) akan menjadi Rp. 6.000.000
Rp. 20/kg x 400 ton (400.000 kg) akan menjadi Rp. 8.000.000
Rp. 20/kg x 500 ton (500.000 kg) akan menjadi Rp. 10.000.000
Jadi, penghasilan bersih dari usaha saya ya tergantung omset dari usaha saya sendiri dan jangan lupa bahwa saya juga mengambil gaji dari usaha saya sesuai posisi saya sebagai direktur (hehehe …)

Mungkin, hitungan tadi terlalu kecil bagi anda yang saat ini memiliki perusahaan raksasa. Hitungan itu adalah gambaran kasar dari sebuah UMKM yang mencoba bertahan  dari gempuran kebutuhan hidup yang semakin mahal di ibukota.

Pos ini dipublikasikan di Aku dan Lingkungan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s